foto ini diambil di daerah pelayanan GKSBS Way Hitam, klasis Belitang. GKSBS Way Hitam terdiri dari 11 kelompok kebaktian yang beberapa kelompok kebaktian diantaranya memiliki kondisi geografis seperti nampak pada foto. 3 kelompok diantaranya melaksanakan ibadah pada hari sabtu. GKSBS Way Hitam dilayani oleh Pdt. Tulus Silitonga dan Pdt. Em. Sutriono.
Sebuah refleksi oleh Pdt. Kristanto Budiprabowo
Tata Gereja dan Tata Laksana GKSBS selalu menjadi laksana “Kirbat Lama” dalam berusaha untuk menampung percepatan dinamika social menggereja jemaat yang selalu laksana “Anggur Baru” yang manis, pahit, menyenangkan dan memabukkan. Sudah sejak saat Tager/Talak GKSBS disahkan, keinginan untuk memikirkan ulang, mengurangi, menambah, memperbaiki (baca: mengAMANDEMEN) terjadi. Dan sekarang hal itu telah menjadi isu yang berskala sinodal dan meresahkan banyak pihak, bahkan kadang menimbulkan potensi konflik yang tidak ringan. Padahal setiap orang tahu bahwa anggur baru akan merusak kirbat lama, sementara itu membutuhkan refleksi yang mendalam, keberanian berinovasi, dan kerja keras untuk selalu menyediakan kirbat baru. Dengan terus mempertahankan kirbat lama orang mudah berasumsi bahwa anggur baru hanya bisa mengalir ke dalam kirbat yang lain.
Untuk mengurai perjumpaan Tager-Talak GKSBS dengan perkembangan yang terjadi baik dalam diri pribadi anggota jemaat, kelompok PA, Kelompok Kebaktian, Jemaat, Klasis, dan terutama yang terjadi pada konteks social masyarakat, munculnya keinginan untuk selalu menyediakan kirbat baru dapat diteliti melalui beberapa proses. Pertama, pentingnya melihat secara utuh KONSTITUSI GKSBS sebagai alur yang sinergis dalam melengkapi jemaat memasuki Kerajaan Allah di dunia ini. Kedua, merubah atau setidaknya melengkapi cara pandang disiplin gereja yang cenderung kolonialis, otoriter, berorientasi pada proses hukum, dan mengutamakan system kekuasaan demi kewibawaan Gereja menuju pada cara pandang yang apresiatif, kreatif, dan fleksibel dalam mencari bersama kehendak Allah dalam segala peristiwa hidup manusia.
Tata Gereja Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS) memiliki perjalanan sejarah sebagai berikut:
- Pada Sidang XVIII Sinode GKJ di Yogyakarta tanggal 6 Agustus 1987 memutuskan (artikel 119 akta XVIII Sinode GKJ) bahwa Sinode GKJ Wilayah I di Sumatera Bagian Selatan dinyatakan mandiri dan menjadi Sinode sendiri dengan nama: Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (disingkat GKSBS). Cita-cita GKSBS (tertuang dalam Buku Putih GKSBS) adalah ingin menjadi gereja daerah (bukan gereja kesukuan). Dengan demikian dipakailah nama Gereja Kristen Lampung (GKL) untuk gereja-gereja di daerah Lampung, Gereja Kristen Sumatera Selatan (GKSS) untuk gereja-gereja di daerah Sumatera Selatan, Gereja Kristen Bengkulu (GKB) untuk gereja-gereja di daerah Bengkulu, dan Gereja Kristen Jambi (GKJ) untuk gereja-gereja di daerah Jambi. Namun pada awal kemandirian Sinode GKSBS tersebut belum mempersiapkan diri dengan Tata Gereja (yang penting merdeka dulu mengenai Tata Gereja dan hal-hal lain akan diatur kemudian dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya) oleh karena itu GKSBS masih menggunakan Tata Gereja GKJ (Akta sidang I Sinode GKSBS, artikel 57) di Palembang. baca selengkapnya…
Bersama Meletakkan Dasar Pengorganisasian Gereja Dalam Rumah Bersama di Sumbagsel
Tager/Talak memang tidak secara langsung mampu mengubah kondisi social, tetapi berpengaruh sangat penting agar Jemaat ditata menuju pada pelayanan social yang lebih konkret. Cara atau system menata Jemaat itu berpengaruh pada cara Jemaat bersikap di masyarakat.
Berangkat dari asumsi jemaat GKSBS bahwa Tager Talak/Tata Laksana (TGTL) yang selama ini dipakai dinilai masih belum secara jelas dan rinci sebagai alat untuk membantu jemaat menjawab pergumulan dan konteks dari jemaat lokal. MPS selaku pemegang mandat Sidang Sinode GKSBS mengapresiasi berbagai masukan dari jemaat dan klasis. Harapan terbesar adalah bahwa proses Konven ini akan menghasilkan dasar teologis dari sistem pemerintahan GKSBS yang lebih kontekstual, transformatif dan apresiative.
Pelaksanaan :
Wisma Centrum, 17 – 19 Januari 2012.
Metode dan Alur Proses
Dengan tetap menghargai partisipasi dan apresiasi memperhatikan masukan dan usulan-usulan dari jemaat-jemaat dengan tidak mengurangi substansi dan perinsip-perinsip dasar TGTL GKSBS. Sinergis dengan tetap memperhatikan dokumen-dokumen GKSBS yang terkait dan renstra jemaat.
Semangat ini akan diimplementasikan dalam diskusi panel (MPK dan panelis) dan diskusi dalam kelompok-kelompok kecil. Rumusan ini akan digodok kembali oleh perumus draft amandemen TGTL dan disosialisasikan ke setiap klasis dengan harapan sebelum Sidang Kontrakta pada Agustus 2012 ini sudah ada draft final.
Panelis :
- Pdt. Untung Wiyono, mantan Sekum Gereja Kristen Jawa (GKJ)
- Pdt. Lazarus, dosen STT Jakarta
Lihat Sejarah Tata Gereja GKSBS
[catatan admin: kalimat-kalimat berikut ini adalah tulisan asli dari Henriette untuk perkenalan dirinya. Sengaja saya tidak mengeditnya agar tetap terlihat exspresi bahasa Indonesia yang original dari beliau]
Shalom! Di tulisan ini saya ingin memperkenalkan siapa saya. Nama saya Pendeta Henriëtte. Saya dari Belanda dan saya collega yang baru di kantor sinode paling tidak selama dua tahun. Tugas saya adalah bekerja bersama dengan collega di kantor sinode di program diakonia transformatif. Gereja-gereja di Indonesia dan gereja-gereja di Indonesia ingin berbagi pengalaman di diakonia dan ingin belajar dari satu sama lain.
Saya datang ke Metro tanggal 1 oktober dan tinggal di Metro selama 2 minggu. Sesudah itu saya pergi ke Jogjakarta untuk belajar Bahasa Indonesia di Wisma Bahasa. Bahasa Indonesia saya belum lancar, tetapi muda-mudahan saya akan menjadi lacar di tahun depan. Ketika saya mulai belajar Bahasa Indonesia pikiran saya adalah bahasa yang mudah, tetapi sekarang pikiran saya mengganti. Khususnya struktur pasif sedikit susah untuk saya. Di Bahasa Indonesia mereka lebih berfokus pada subjek, tetapi di Bahasa Belanda lebih pada objek. Tetapi harapan saya sesudah saya berlatih setiap hari saya akan menjadi lancar cepat.
Sejak satu minggu saya tinggal di rumah sewa dekat kantor sinode. Saya suka tinggal di Metro. Alasan yang pertama mengapa saya suka tinggal di sini adalah karena saya punya teman kerja yang ramah dan asik. Mereka membantu saya dengan semua hal. Alasan yang kedua mengapa saya menikmati Metro, karena makanan Indonesia enak sekali. Khususnya sop buah, mie repus pangsit(‘mie awang’), ikan gurami asam manis, dan petcel. Makanan yang saya tidak suka adalah durian. Dan tentu saja cuaca di sini lebih panas daripada cuaca di Belanda. Sekarang di Belanda musim dingin. Saya beruntung menjadi di Indonesia sekarang. Walaupun untuk saya sedikit aneh merayankan Natal dengan 33 teradjat Celsius, tetapi itulah Indonesia!
Muda-mudahan kita akan bertemu kapan-kapan di kantor sinode atau di jemaat Anda. Terima kasih dan Tuhan memberkati.
Salam,
Henriëtte Nieuwenhuis
Sebuah upaya membangun kesadaran eklesiologis, misiologis dan arah menggereja …….. [bagian 1]
Oleh: Pdt. Kristanto Budiprabowo
Umum dipahami bahwa sejarah Gereja berdiri sendiri dan lepas dari sejarah umum yang terjadi di sekitarnya. Peristiwa-peristiwa sejarah yang terjadi di luar Gereja diakui, namun hanya dijadikan patokan waktu atau gambaran latar belakang bagi sejarah Gereja. Hal ini diakui bersama karena sejarah Gereja selalu dikaitkan dengan sejarah Iman yang melampaui dan melebihi pentingnya sejarah hidup yang nyata. Catatan-catatan penting yang disediakan oleh sejarah gereja lebih banyak menonjolkan pada bagaimana umat beriman menjalani hidupnya di dalam sejarah dunia ini.
“Cara sebuah komunitas memahami sejarahnya menentukan caranya memahami diri, lingkungan dan masa depannya. Pemahaman sebuah komunitas terhadap sejarah tersbut juga mempengaruhi caranya membangun nilai-nilai bersama.
GKSBS adalah sebuah komunitas yang terbangun dalam sejarah yang penuh dinamika. Agar eklesiologi, misiologi dan arah bergereja dapat terus dimaknai, GKSBS dapat mengevaluasi caranya memahami sejarah.”
Pelatihan ini diselenggarakan oleh JK-LPK dan diikuti oleh Dkn. Sugianto
Sejak setahun lebih saya menjadi relawan JOTHI Lampung. JOTHI singkatan dari Jaringan Orang Terinfeksi HIV AIDS. Beberapa kali saya mengikuti pelatihan yang diselenggarakan oleh JOTHI. Saya juga terlibat dalam penggalangan dana ke gereja-gereja. Tapi gagal. Saya bersama dengan relawan JOTHI Lampung lainnya mendampingi Junaidi (kasus HIV/AIDS) dalam proses perawatan sampai dengan meninggal. Sejak mendampingin Junaidi almarhum saya merasakan pentingnya ketrampilan pendampingan konseling pastoral bagi ODHA maupun OHIDHA. Saya telah berusaha untuk memiliki ketrampilan yang spesifik dalam bidang konseling-pastoral ODHA dan OHIDHA. Latar belakang ini yang mendorong saya untuk memanfaatkan kesempatan pelatihan ini. Maka, sekalipun nombok untuk transport, saya dengan senang hati melakukan.
Materi dan Fasilitator
Sebagaimana tertulis dalam ToR, pelatihan ini memang tidak fokus pada konseling. Ada banyak materi yang bersifat teknis – yang terkait dengan HIV/AIDS juga diberikan. Secara keseluruhan materi yang diberikan sbb: baca selengkapnya
Adalah Klasis Belitang sebagai penggagas dan penyelenggara seminar ini yang akan diadakan pada hari Selasa, 29 Nopember 2011 di GKSBS Kelirejo, BK.24, OKU Timur dan dimulai Pkl.10.00 WIB.
Diantaranya juga akan mendiskusikan tentang gambaran kekinian GKSBS melalui studi sejarah, tetapi bukan sejarah dalam artian masa lalu yang monumental tetapi juga sejarah kritis yang akan menggali konteks kekinian GKSBS.
Seiring perkembangan jaman pula, nilai-nilai baru pun muncul. Mulai dari peningkatan ekonomi hingga perubahan nilai-nilai komunitas iman di GKSBS.
TUJUAN SEMINAR :
- Memetakan secara historis akan pemahaman GKSBS sebagai gereja di Sumbagsel dan paradigma bergerejanya.
- Menemukan bangunan eklesiologis yang berpusat pada penghayatan akan nilai-nilai komunitas GKSBS.
- Pdt. Christya Prihanto Poetro, M.Th —– Sekum GKSBS
- Pdt. Kristanto Budiprabowo, M.Th —– Pendeta GKSBS Gunung Pasir Jaya yang saat ini sedang studi lanjut S3 di ICRS Yogyakarta
- Kantor Klasis Belitang 081273803248 (Pdt. Yunius Irwanto)
- Pdt. Tulus Silitonga, 081369944770
- Pdt. Eko Nugroho, 085764643999





