Who's Online
    We have 2 guests online
    Shout Box
    !Warning! JavaScript must be enabled for proper operation.
    Guest Richman says:
    2010-07-11 04:22:30
    Ketika seorang gembala ora ngurusi weduse.. opo...yo..bener
    Guest bontang says:
    2010-05-17 15:41:50
    HAI...orang-orang yang beriman...Yang TIDAK Beriman Tidak HAI....
    Guest bontang says:
    2010-05-17 14:10:10
    ALHAMDULLILAH....
    Guest youth says:
    2010-05-16 06:06:02
    saat ini penyesat2 & kuasa2 gelap semakin aktif berusaha untuk menjerumuskan anak2 Tuhan.. karna itu saya rindu untuk mendapatkan pemahaman alkitab yang benar & informasi terhadap kegiatan2 kuasa gelap, agar kita semua dapat mengantisipasi dan tetap waspada dari serangannya.. semoga iman kita selalu di teguhkan oleh Roh Kudus, Amin!
    Guest Administrator says:
    2010-04-10 02:16:48
    Iwoel.... awas netes.... hahahahah... dah tak approve...
    Tanggapan Atas Sidang Sinode
    CB Login
    CB Online
    None
    Yahoo Messenger

    Obtener Plugin Flash para visualizar este reproductor

    Visitors Counter
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterToday309
    mod_vvisit_counterYesterday240
    mod_vvisit_counterThis week1077
    mod_vvisit_counterThis month8030
    mod_vvisit_counterAll57864

    (Appreciative Inquiry): kita harus membebaskan pikiran kita dari hal-hal yang tidak baik agar hanya kebaikanlah yang tersisa dalam pikiran kita. Dan bila hanya kebaikan yang mengisi pikiran kita maka baiklah pengertian kita.

    Home

    Latest News

    Welcome to GKSBS

    Profil Yayasan Pendidikan Bengkulu

     

    Klik di sini untuk mendownload file MP3 Mars dan Hymne GKSBS

     

    Sudah selayaknya kita syukuri bahwa di wilayah Klasis Bengkulu hadir Yayasan Pendidikan Kristen Bengkulu. Yayasan yang didirikan oleh Sinode GKSBS sejak tanggal 7 Juni 1994, sudah kurang lebih 26 tahun namun dampak langsung dari yayasan mungkin masih belum dirasakan oleh Jemaat-Jemaat di Wilayah Klasis Bengkulu. YPKB belum memiliki unit yang bergerak dalam Pendidikan Formal, selama ini masih mengembangkan usahanya dalam Pendidikan Non Formal yaitu Kursus Bina Musika La-Sonora. Beberapa prestasi yang patut kita rayakan dan syukuri dari La-Sonora antara lain :

    Last Updated (Tuesday, 27 July 2010 17:16)

    Read more...

     

    Terbitan Tahun 2010

    Saya sampaikan selamat berjumpa kembali kepada Jemaat GKSBS dan rekan-rekan semua,

    Sebagai informasi bahwa sudah diupload soft copy semua terbitan Sinode GKSBS meliputi Panduan Khotbah, Panduan PA, Panduan Kebaktian Anak, Panduan Masa Penghayatan Hidup Berkeluarga, dan Pekan Pendidikan Kristen tahun 2010. Silahkan menuju ke halaman DOWNLOAD untuk bisa mengunduhnya. Terimakasih.

     

    GKSBS Air Sugihan

    GKSBS Airsugihan jalur 20Air Sugihan masih bagian dari daratan pulau Sumatera. Merupakan daratan lahan gambut yang terletak di muara sungai Musi dan anak-anak sungainya, diantaranya Sungai Sugihan. Sebagai daratan yang terbentuk di muara sungai, kawasan Air Sugihan merupakan lahan yang subur untuk pertanian. Maka pada tahun 1980-an pemerintah RI membuka kawasan Air Sugihan menjadi kawasan proyek transmigrasi. Masyarakat Palembang dan Air Sugihan akrab menyebut kawasan transmigrasi Air Sugihan dengan sebutan “Jalur”. Sebab, kawasan transmigrasi Air Sugihan dibagi dalam jalur-jalur kanal buatan yang berfungsi sebagai prasarana transportasi dan pengendalian air pasang surut. Jarak Palembang ke Air Sugihan, jalur yang paling dekat, yakni Jalur 20 kira-kira 90 kilo meter. Jika menggunakan speed boad dari Palembang ke Jalur 20 membutuhkan waktu satu setengah jam.

    Di awal-awal pembukaan sebagai proyek transmigrasi, Air Sigihan menjadi lumbung beras yang melimpah. Menurut cerita transmigran generasi pertama, pada awal-awal transmigrasi,panen padi sangat melimpah. Bukan hanya melimpah, tetapi budidaya pertaniannya juga sangat sederhana dan hanya membutuhkan asupan sedikit. Menjelang banjir datang para transmigran cukup melakukan terbas rumput yang menutupi areal sawah. Rumput yang sudah diterbas dibiarkan busuk karena terendam air pasang. Setelah rumput busuk, berubah jadi pupuk, petani menebarkan bibit padi. Setelah itu tinggal menunggu panen. Pupuk kimia tidak dibutuhkan. Tetapi cara bercocok tanam padi seperti ini tidak berlangsung selamanya. Karena perubahan alam yang tidak sepenuhnya bisa dimengerti oleh masyarakat, air pasang tidak pernah lagi mampu menggenangi sawah, masyarakat harus menggunakan herbisida, pestisida/insektisida dan pupuk kimia dengan harga yang sangat mahal. Dengan cara inipun kadang panen gagal. Kesulitan ekonomi semakin terasa. Bahkan masyarakat sudah tidak mampu makan nasi, melainkan oyek. Di beberapa jalur, hal ini berlangsung sampai dengan 2005-an. Jika di awal pembukaan transmigrasi, Air Sugihan – pada saat musim panen – menjadi tujuan perantauan masyarakat Lampung, mulai pada tahun 1990-an Air Sugihan menjadi kantong besar penyedia tenaga perantau ke berbagai daerah, terutama Bangka. Air Sugihan kemudian dikenal dengan kemiskinannya. Penyakit, anak putus sekolah, pengangguran, minimnya prasaranan dan sarana kesehatan dan pendidikan identik dengan Air Sugihan. Tetapi sejak lima tahun terakhir ada cukup banyak perkembangan terjadi di Air Sugihan – dalam berbagai hal. Jika sepeda motor dijadikan indicator kemajuan, kita bisa melihat bahwa rata-rata rumah tangga di Air Sugihan telah memiliki sepeda motor.

    Read more...

     

    REFLEKSI GKSBS MENYONGSONG SIDANG SINODE

    RUMAH BERSAMA DAN KESADARAN DIASPORIK GKSBS

    Bukanlah sebuah usaha romantisme jika ide ‘rumah bersama’ yang selama ini telah menghidupi GKSBS direfleksikan kembali. Rumah bersama adalah wacana yang menyejarah dan terus menjadi darah dan daging yang mengiringi proses perjalanan GKSBS. Dalam refleksi pendek kali ini saya hanya akan menyampaikan gambaran umum mengenai tiga proses memahami ‘rumah bersama’ sebagai bagian tak terpisahkan dari proses kesadaran diasporik GKSBS. Tentu saja disana-sini ada generalisasi, namun sebagai sebuah refleksi singkat, diharapkan tiga pembedaan yang ditampilkan tidak menjadi polemik melainkan untuk meluaskan wawasan kita terhadap pergumulan menggereja dalam konteks Sumbagsel. Segala kritik dan perdebatan yang ditimbulkan dari tulisan ini kiranya disyukuri sebagai anugerah agar kita terus berpikir bagi masa depan GKSBS.

    Pertama, ide rumah bersama muncul bersamaan dengan kesadaran diasporik awal para transmigran. Pada era tersebut, sekalipun ide ini belum terartikulasi dengan gamblang dan sistematis, namun tanda-tanda bahwa usaha untuk menemukan sebuah bangunan mandiri di ‘tanah sebrang’ dengan keseragaman identitas baru yang berbeda dengan identitas dari asal daerah dan gereja, menguat dan menjadi impian yang sangat diidamkan. Terbangunlah model bergereja yang disusun secara kreatif dan inovatif oleh para ‘bapa gereja’ GKSBS. Harapan dan usaha-usaha yang telah berjalan untuk memiliki tata-gereja sendiri, buku katekisasi sendiri, pokok-pokok ajaran, bahan PA, kotbah jangkep, dan bahkan leksionari ala GKSBS adalah beberapa jejak langkah kesadaran diasporik awal itu. Dari segi pengorganisasian, isu sentralisasi dan desentralisasi, grouping dan regrouping, sinodal – presbiterial, bahkan sampai teknik administrasi yang relevan dengan konteks Sumbagsel menjadi gelombang tantangan yang telah menghabiskan banyak energi namun dengan hasil yang tidak sia-sia.

    Kedua, bersamaan dengan hiruk-pikuk reformasi social-politik negri ini, ide ‘rumah bersama’ menjadi semakin mudah diartikulasikan dan digambarkan konsepnya. Dengan penuh keberanian politis dan teologis, GKSBS memilih untuk menggunakan model rumah bersama sebagai dasar untuk: berorganisasi, membangun teori sosial dan politik, mewacanakan model-model pendekatan pemberdayaan, dan menentukan sistem perencanaan hingga aplikasi program yang dibutuhkannya. Dalam kesadaran diasporik kedua ini, setiap orang dengan gagah berani memiliki kesempatan yang sama untuk mengambil sikap. Dalam banyak diskusi kita dengan tanpa beban bicara tentang ‘model Lampung’, ‘model Bengkulu’, ‘model belitang’ dalam semangat dialog intersubjektif yang sangat dinamis dan produktif. Dalam kontek Lampung saja, orang dengan percaya diri mengapresiasi model Sumberhadi atau model Metro, model Tanjungkarang atau model Bandarjaya, masing-masing dengan keterbukaan dan ketulusan untuk menerima dan diterima. Dalam konteks kesadaran diasporik seperti ini isu peningkatan kapasitas, kecakapan berdialog, sensitifitas empati, dan pertanggungjawaban atas segala karunia menjadi yang paling menonjol sebagai haluan bagi arah masa depan GKSBS.

    Ketiga, dalam era pasca reformasi, saat dimana euphoria demokrasi dan kebebasan berekspresi menemukan bentuknya yang paling nyata, terbukalah dengan kasat mata segala wujud asumsi-asumsi dasar, motivasi, dan harapan masa depan tiap-tiap orang. Dalam kesadaran diasporik lanjut ini, munculah gelombang peluang untuk mengevaluasi bagaimana ide rumah bersama itu dipahami, digunakan dan dimanfaatkan di tengah-tengah masyarakat. Bersamaan dengan habisnya tanah tujuan transmigrasi yang bisa dikapling-kapling dengan bebas, di dalam sistem politik partai yang menumbuhkan kesadaran berorganisasi sebagai kendaraan pencapaian tujuan kelompok atau perorangan, serta kegamangan publik terhadap lembaga-lembaga yang membangun legitimasi berdasarkan sistem ‘reward and punishment’, GKSBS memasuki era kesadaran diasporik yang sama sekali baru. Adalah sebuah kenyataan kekinian jika kita melihat bahwa dalam gereja semakin terang-terangan terjadi sistem boikot dan pengerahan masa, terjadi penggalangan opini oposisional terhadap hal-hal yang telah disepakati bersama, terbangunnya tembok-tembok institusi menjadi semakin kuat dan garang, dan mulai terbiasanya politik figur yang giat menggalang simpati public (ala SBY) digunakan.

    Akhirnya, ketiga kondisi yang mempengaruhi kesadaran diasporik dan pemaknaan terhadap rumah bersama seperti telah disebutkan diatas memberi peluang baru bagi kita untuk secara serius seluruhnya dimanfaatkan secara imani dan bertanggungjawab. Nah, dengan kesadaran terhadap tiga hal itu, mari mendiskusikan pertanyaan Allah seperti yang ditujukan kepada Elia saat di berada di gunung Horeb: “sedang apakah kamu (GKSBS) saat ini berada di sini?” (bdk. I Raja-raja 19:8-10).

     

    Memahami Kepemimpinan di GKSBS

     

    Oleh: Sugianto

    Catatan admin ::

    menjelang sidang IX Sinode GKSBS, isu tentang kepemimpinan menjadi isu yang asik dan sexy untuk dibahas. Bisa dimengerti karena mungkin sosok seorang pemimpin sangat strategis untuk tetap menjaga visi dan misi lembaga tetap on the track. inilah opini yang ditulis oleh Sugianto, melengkapi opini dari Pdt. Kristanto Budiprabowo di artikel beliau yang lalu.

     

    Sebentar  lagi akan diselenggarakan Sidang IX Sinode GKSBS. Berita yang beredar mengatakan bahwa Sidang IX Sinode GKSBS akan diselenggarakan bulan Juli 2010. Entah tanggal berapa? Pada Sidang IX Sinode GKSBS nanti akan terjadi suksesi kepemimpinan di Sinode GKSBS. Sadar atau pura-pura tidak sadar energi kita akhir-akhir ini cukup tersedot pada isu suksesi itu. Nampaknya semua klasis sudah menentukan pilihannya siapa yang akan diusung sebagai Ketua atau Sekretaris MPS GKSBS 2010-2015, sekalipun semua klasis belum membicarakan mengenai potret GKSBS lima tahun ke depan. Lagi-lagi ini juga menjadi penanda bahwa kepemimpinan merupakan isu yang seksi bagi gereja kita.

     

    Semua komunitas butuh pemimpin

    Seperti yang ditulis oleh Pdt. Kristanto, setiap komunitas selelu memerlukan pemimpin. Komunitas gajah pun juga butuh pemimpin. Apalagi komunitas manusia. Jika ada gerombolan manusia tanpa pemimpin itu biasanya belum bisa disebut dengan komunitas. Tetapi ketika komunitas itu sudah memiliki pola-pola interaksi yang teratur, disitu selalu ada pemimpin. Dan kalau tidak ada, maka komunitas itu dengan caranya sendiri akan memilih pemimpinnya. Maka bisa dibayangkan dengan GKSBS. Ketika komunitas itu berada dalam satuan kelompok,maka komunitas kelompok itu akan memilih pemimpin mereka di kelompok. Dan ketika komunitas itu berada dalam satuan jemaat, maka komunitas jemaat itu akan memilih (membuat) pemimpin mereka sebagai jemaat. Dan ketika komunitas itu berada dalam satuan klasis, maka komunitas klasis itu akan memilih (membuat) pemimpin mereka sebagai klasis. Pun demikian ketika komunitas itu berada dalam satuan Sinode, maka komunitas Sinode itu akan memilih (membuat) pemimpin mereka sebagai Sinode.

    Dalam tradisi GKSBS dipahami bahwa Majelis Jemaat adalah pemimpin sebuah jemaat. Sedang Majelis Pekerja Klasis adalah pemimpin sebuah klasis. Dan Majelis Pekerja Sinode adalah pemimpin Sinode GKSBS. Tapi di GKSBS ada juga kecenderungan yang dikembangkan seolah-olah Majelis Jemaat, MPK dan MPS itu bukan pemimpin. Alasan yang digunakan mendasari pemahaman ini adalah ‘karena pemimpin gereja adalah Tuhan Yesus’. Dan ini benar bahwa pemimpin gereja adalah Tuhan Yesus. Tetapi sebagai sebuah komunitas, warga GKSBS membutuhkan pemimpin yang terdiri dari manusia. Bukan Tuhan Yesus yang tidak bisa dilihat. Tetapi manusia yang taat dengan Tuhan Yesus. Maka menjadi penting bagi siapa saja yang menjadi anggota MJ, MPK maupun MPS bahwa dirinya adalah pemimpin komunitas warga GKSBS dalam aras mmasing-masing. Pengingkaran akan peran sebagai pemimpin merupakan tindakan yang menipu diri dan menipu orang lain. Bukan hanya menipu, melainkan secara sosial sangat membahayakan. Karena membiarkan komunitas hidup tanpa pimpinan yang efektif.

     

    Last Updated (Thursday, 06 May 2010 10:40)

    Read more...