Choose Your Language
    English Dutch
    Who's Online
    We have 8 guests online
    Shout Box
    !Warning! JavaScript must be enabled for proper operation.
    Guest Richman says:
    2010-07-11 04:22:30
    Ketika seorang gembala ora ngurusi weduse.. opo...yo..bener
    Guest bontang says:
    2010-05-17 15:41:50
    HAI...orang-orang yang beriman...Yang TIDAK Beriman Tidak HAI....
    Guest bontang says:
    2010-05-17 14:10:10
    ALHAMDULLILAH....
    Guest youth says:
    2010-05-16 06:06:02
    saat ini penyesat2 & kuasa2 gelap semakin aktif berusaha untuk menjerumuskan anak2 Tuhan.. karna itu saya rindu untuk mendapatkan pemahaman alkitab yang benar & informasi terhadap kegiatan2 kuasa gelap, agar kita semua dapat mengantisipasi dan tetap waspada dari serangannya.. semoga iman kita selalu di teguhkan oleh Roh Kudus, Amin!
    Guest Administrator says:
    2010-04-10 02:16:48
    Iwoel.... awas netes.... hahahahah... dah tak approve...
    CB Login
    CB Online
    None
    Yahoo Messenger

    Obtener Plugin Flash para visualizar este reproductor

    Visitors Counter
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterToday137
    mod_vvisit_counterYesterday206
    mod_vvisit_counterThis week137
    mod_vvisit_counterThis month1290
    mod_vvisit_counterAll67395
    There are no translations available.

    Menjadi gereja daerah yang memiliki spiritualitas hamba Allah yang setia, yang peduli dengan masalah sosial dan hak asasi manusia, solider dengan mereka yang lemah, bersama dengan para pihak mewujudkan masyarakat sipil dan dunia yang berpengharapan.

    Home

    Latest News

    Memahami Kepemimpinan di GKSBS

    There are no translations available.

     

    Oleh: Sugianto

    Catatan admin ::

    menjelang sidang IX Sinode GKSBS, isu tentang kepemimpinan menjadi isu yang asik dan sexy untuk dibahas. Bisa dimengerti karena mungkin sosok seorang pemimpin sangat strategis untuk tetap menjaga visi dan misi lembaga tetap on the track. inilah opini yang ditulis oleh Sugianto, melengkapi opini dari Pdt. Kristanto Budiprabowo di artikel beliau yang lalu.

     

    Sebentar  lagi akan diselenggarakan Sidang IX Sinode GKSBS. Berita yang beredar mengatakan bahwa Sidang IX Sinode GKSBS akan diselenggarakan bulan Juli 2010. Entah tanggal berapa? Pada Sidang IX Sinode GKSBS nanti akan terjadi suksesi kepemimpinan di Sinode GKSBS. Sadar atau pura-pura tidak sadar energi kita akhir-akhir ini cukup tersedot pada isu suksesi itu. Nampaknya semua klasis sudah menentukan pilihannya siapa yang akan diusung sebagai Ketua atau Sekretaris MPS GKSBS 2010-2015, sekalipun semua klasis belum membicarakan mengenai potret GKSBS lima tahun ke depan. Lagi-lagi ini juga menjadi penanda bahwa kepemimpinan merupakan isu yang seksi bagi gereja kita.

     

    Semua komunitas butuh pemimpin

    Seperti yang ditulis oleh Pdt. Kristanto, setiap komunitas selelu memerlukan pemimpin. Komunitas gajah pun juga butuh pemimpin. Apalagi komunitas manusia. Jika ada gerombolan manusia tanpa pemimpin itu biasanya belum bisa disebut dengan komunitas. Tetapi ketika komunitas itu sudah memiliki pola-pola interaksi yang teratur, disitu selalu ada pemimpin. Dan kalau tidak ada, maka komunitas itu dengan caranya sendiri akan memilih pemimpinnya. Maka bisa dibayangkan dengan GKSBS. Ketika komunitas itu berada dalam satuan kelompok,maka komunitas kelompok itu akan memilih pemimpin mereka di kelompok. Dan ketika komunitas itu berada dalam satuan jemaat, maka komunitas jemaat itu akan memilih (membuat) pemimpin mereka sebagai jemaat. Dan ketika komunitas itu berada dalam satuan klasis, maka komunitas klasis itu akan memilih (membuat) pemimpin mereka sebagai klasis. Pun demikian ketika komunitas itu berada dalam satuan Sinode, maka komunitas Sinode itu akan memilih (membuat) pemimpin mereka sebagai Sinode.

    Dalam tradisi GKSBS dipahami bahwa Majelis Jemaat adalah pemimpin sebuah jemaat. Sedang Majelis Pekerja Klasis adalah pemimpin sebuah klasis. Dan Majelis Pekerja Sinode adalah pemimpin Sinode GKSBS. Tapi di GKSBS ada juga kecenderungan yang dikembangkan seolah-olah Majelis Jemaat, MPK dan MPS itu bukan pemimpin. Alasan yang digunakan mendasari pemahaman ini adalah ‘karena pemimpin gereja adalah Tuhan Yesus’. Dan ini benar bahwa pemimpin gereja adalah Tuhan Yesus. Tetapi sebagai sebuah komunitas, warga GKSBS membutuhkan pemimpin yang terdiri dari manusia. Bukan Tuhan Yesus yang tidak bisa dilihat. Tetapi manusia yang taat dengan Tuhan Yesus. Maka menjadi penting bagi siapa saja yang menjadi anggota MJ, MPK maupun MPS bahwa dirinya adalah pemimpin komunitas warga GKSBS dalam aras mmasing-masing. Pengingkaran akan peran sebagai pemimpin merupakan tindakan yang menipu diri dan menipu orang lain. Bukan hanya menipu, melainkan secara sosial sangat membahayakan. Karena membiarkan komunitas hidup tanpa pimpinan yang efektif.

     

     

    Peran pemimpin

    Definisi pemimpin adalah orang yang memiliki pengikut, di-ikuti oleh orang lain (banyak orang), yang bisa mempengaruhi dan menggerakkan orang lain. Jadi sudah bisa dibayangkan bahwa pemimpin ini adalah orang yang berada di depan. Bukan di belakang.

    Untuk bisa di-ikuti oleh orang lain, bisa mempengaruhi dan menggerakkan orang lain memang dibutuhkan banyak syarat. Syarat minimal yang harus dimiliki oleh seseorang yang dinobatkan sebagai pemimpin adalah memiliki ide, gagasan, cita-cita yang inspiratif. Dia juga harus mampu mengkomunikasikan idenya dengan baik. Dengan adanya idea tau cita-cita para pengingut atau calon pengikutnya bisa mengetahui kemana perjalanan akan dibawa oleh sang pemimpin. Mengapa ide, cita-cita atau arah ini penting? Karena semua orang memahami bahwa hidup ini adalah sebuah perjalanan menuju pada kepenuhan. Maka komunitas yang tidak memiliki pemimpin akan tercerai-berai dan akan terancam keberadaannya sebagai komunitas. Komunitas itu akan hancur sebagai komunitas. Tapi ini jarang terjadi. Karena begitu terjadi kekosongan pemimpin, maka komunitas itu akan otomatis membentuk (membuat) pemimpin mereka sendiri.

    Karena posisi dan peran pemimpin seperti diatas, maka menjadi pemimpin itu menakutkan dan sekaligus bisa membahayakan. Menakutkan karena dia harus berada di depan dan banyak orang menaruh harapannya pada dirinya. Maka banayak orang yang mau menyandang status sebagai pemimpin tetapi menolak untuk mengambil tanggung-jawabnya sebagai pemimpin. Tetapi juga bisa berbahaya karena dengan posisinya yang berada di depan memungkinkan pemimpin berjalan kearah yang salah tanpa harus ada yang mengontrol. Ini menyebabkan banyak orang mengasosiasikan seorang pemimpin sama dengan seorang yang congkak, otoriter dan kejam. Dan ini tentu saja salah.

     

    Kepemimpinan di GKSBS

    Di lingkungan GKSBS dipahami bahwa pemimpin komunitas jemaat disebut majelis. Artinya bersifat kolektif. Bukan perorangan. Tetapi terdiri dari beberapa orang. Di tingkat jemaat disebut Majelis Jemaat. Di tingkat klasis disebut dengan Majelis Pekerja Klasis. Dan di tingkat Sinode disebut dengan Majelis Pekerja Sinode. Apa makna pimpinan koletif? Maknanya adalah bahwa di dalam lembaga kemajelisan itu duduk atau terdiri dari para (individu-individu) pemimpin! Jadi yang duduk di lembaga itu bukan orang sembarangan. Paling tidak secara person orang yang duduk dilembaga itu telah diposisikan dan diperankan sebagai pemimpin oleh anggota komunitas. Jadi MJ, MPK, MPS adalah kumpulan para pemimpin. Dan lembaga dimana mereka berkumpul itu memiliki peran sebagai pemimpin komunitas. Dan perlu disadari bahwa konsep kepemimpinan seperti ini bukan hanya ciri khasnya GKSBS. Gereja lain yang memiliki konsep seperti ini juga ada. Bahkan banyak.

    Para pemimpin yang bermajelis itu kemudian menjadi sebuah komunitas. Nah, komunitas itu pasti membutuhkan pemimpin. Maka harus ada yang diposisikan sebagai pemimpin. Entah formal maupun informal. Tetapi di lingkungan GKSBS keberadaan pemimpin komunitas itu diformalkan dalam jabatan Ketua MJ, Ketua MPK dan Ketua MPS. Jadi, suka atau tidak suka Ketua MJ diposisikan sebagai pemimpin dari komunitas MJ. Dan Ketua MPK diposisikan sebagai pemimpin dari komunitas MPK. Pun demikian Ketua MPS diposisikan sebagai pemimpin dari komunitas MPS. Bahwa di dalam lembaga kemajelisan itu disepakati secara de jure bahwa tugas para ketua itu hanya memimpin rapat (sebagai moderator) dan tidak boleh mengambil keputusan sendiri, tetapi de fakto para ketua itu diposisikan oleh anggota komunitasnya sebagai pemimpin. Entah ketua itu memiliki ide, cita-cita yang menarik atau tidak, de fakto para ketua itu diposisikan sebagai PEMIMPIN.

     

    Kriteria

    Ada pemahaman yang berkembang mengatakan bahwa karena kepemimpinan di GKSBS bersifat kolektif maka tidak dibutuhkan kriteria atau syarat khusus bagi seorang Ketua. Kiranya kita perlu hati-hati dengan pandangan ini. Jangankan memilih orang yang akan diposisikan sebagai pemimpin, membeli jeruk-pun kita harus memilih-milih. Pemahaman bahwa untuk memilih seseorang yang akan diposisikan sebagai pemimpin tidak perlu kriteria itu bersifat a historis, mengingkari kenyataan dan kebenaran. Kecuali cara pemilihan kita seperti kopyokan dalam arisan, dimana dalam sebuah botol terdapat gulungan kertas yang bersisi nama-nama Penatua, Diaken dan Pendeta seluruh GKSBS. Lalu ketika akan memilih Ketua MPS kita – dengan mata tertutup kain – mengambil gulungan kertas dalam botol itu sesuai kebutuhan. Tetapi kita tidak melakukan seperti itu. Dan saya yakin bahwa seluruh warga GKSBS tidak setuju pemilihan anggota MPS dengan cara seperti itu. Yang terjadi selama ini atau yang sedang terjadi, klasis melalui persidangan klasis memilih orang-orang tertentu untuk menjadi Ketua atau Sekretaris MPS. Perlu disadari bahwa ketika memilih seseorang kita sudah memiliki kriteria-kriteria tertentu. Dan fenomena ini terjadi dimana-mana. Bukan hanya di GKSBS. Jadi membuat kriteria dalam memilih Ketua MPS bukanlah hal yang tabu. Karena mau tidak mau, sadar atau tidak sadar kita selalu memiliki dan membuat kriteria-kriteria itu. Maka akan menjadi sangat baik jika hal kriteria itu dibicarakan dan disepakati bersama. Sehingga semua orang terlibat dalam menggagas mengenai pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh GKSBS ke depan. Ketika kriteria ini tidak dibuka bersama-sama, maka yang terjadi adalah setiap orang akan “maju” dengan kriterianya sendiri-sendiri. Pemilihan pimpinan menjadi soal suka-tidak suka. Siapa yang suaranya keras dan kuat, dialah yang akan berhasil menge-goal-kan kehendaknya.  Dan agar kriteria itu efektif, maka diperlukan mekanisme untuk melakukan seleksi. Apapun namanya,  proses seleksi itu dibutuhkan agar kriteria itu efektif. Bukan hanya sekedar pantas-pantas atau sebagai alat manipulasi untuk memperjuangkan kepentingan. Tetapi agar mekanisme yang dibangun tidak mudah diselewengkan dan dimanipulasi, maka pembuatan mekanisme seleksi itu juga harus terbuka dan transparan.

     

    Tradisi “giliran jaga”

    Adalah Pdt. Dwi Djanarto yang mempopulerkan istilah bahwa menjadi pemimpin di GKSBS laksana giliran jaga (ronda). Ini kata-kata bijak. Dan saya memang pengagum Pdt. Dwi Djanarto karena di mata saya dia memang seorang pendeta yang bijak. Saya mengenal Pdt. Dwi Djanarto sejak mahasiswa. Bagi saya pribadi Pdt. Dwi Djanarto sangat menarik. Dan dia  adalah sahabat saya. Dengan latar belakang relasi saya dengan dia seperti ini, saya memahami bahwa ketika mengutarakan menjadi pemimpin di GKSBS itu seperti giliran jaga, Pdt. Dwi Djanarto sebenarnya ingin menyampaikan pentingnya proses regenerasi kepemimpinan di GKSBS yang teratur dan tahap demi tahap. Tidak semrawut. Tidak zig-zag. Damai dan tidak ada konflik. Yang tua-tua atau yang senior harus mempersiapkan diri untuk (bersedia) memikul tanggung jawab sebagai pemimpin. Sedang yang muda-muda jangan tergesa-gesa (kemudu-kudu). Persiapkan diri dengan baik. Sebab pada saatnya nanti tanggung jawab itu akan sampai juga ke pundak yang muda-muda. Maka proses suksesi tidak perlu heboh-heboh. Tidak perlu ada “kudeta generasi”. Yang tua jangan ngotot untuk duduk terus menerus. Yakinlah bahwa generasi baru sudah siap untuk menyambut tongkat estafet. Yang muda sabar dan belajarlah dari yang tua. Jadi mengalir dengan pasti. Ini yang saya tangkap dari yang diungkapkan oleh saudara dan sahabat saya Pdt. Dwi Djanarto mengenai suksesi kepemimpinan di GKSBS.

    Dalam pemahaman seperti disanepakan oleh Pdt. Dwi Djanarto mengenai kepemimpinan di GKSBS, maka tugas para senior adalah mempersiapkan yang muda-muda agar menjadi lebih siap dalam menerima uluran tongkat estafet. Maka pada gilirannya, yang tua-tua (senior) akan bisa pulang mengakhiri tugas jaganya untuk istirahat dengan damai, karena yakin bahwa pada malam berikutnya sudah siap tenaga-tenaga segar untuk mengisi dan meramaikan pos jaga sesuai dengan jadwal.

     

    Last Updated (Thursday, 06 May 2010 10:40)

     
    English (United Kingdom)