Choose Your Language
    English Dutch
    Who's Online
    We have 4 guests online
    Shout Box
    !Warning! JavaScript must be enabled for proper operation.
    Guest Richman says:
    2010-07-11 04:22:30
    Ketika seorang gembala ora ngurusi weduse.. opo...yo..bener
    Guest bontang says:
    2010-05-17 15:41:50
    HAI...orang-orang yang beriman...Yang TIDAK Beriman Tidak HAI....
    Guest bontang says:
    2010-05-17 14:10:10
    ALHAMDULLILAH....
    Guest youth says:
    2010-05-16 06:06:02
    saat ini penyesat2 & kuasa2 gelap semakin aktif berusaha untuk menjerumuskan anak2 Tuhan.. karna itu saya rindu untuk mendapatkan pemahaman alkitab yang benar & informasi terhadap kegiatan2 kuasa gelap, agar kita semua dapat mengantisipasi dan tetap waspada dari serangannya.. semoga iman kita selalu di teguhkan oleh Roh Kudus, Amin!
    Guest Administrator says:
    2010-04-10 02:16:48
    Iwoel.... awas netes.... hahahahah... dah tak approve...
    CB Login
    CB Online
    None
    Yahoo Messenger

    Obtener Plugin Flash para visualizar este reproductor

    Visitors Counter
    mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
    mod_vvisit_counterToday141
    mod_vvisit_counterYesterday206
    mod_vvisit_counterThis week141
    mod_vvisit_counterThis month1294
    mod_vvisit_counterAll67400
    There are no translations available.

    Menjadi gereja daerah yang memiliki spiritualitas hamba Allah yang setia, yang peduli dengan masalah sosial dan hak asasi manusia, solider dengan mereka yang lemah, bersama dengan para pihak mewujudkan masyarakat sipil dan dunia yang berpengharapan.

    Home

    Latest News

    GKSBS Air Sugihan

    There are no translations available.

    GKSBS Airsugihan jalur 20Air Sugihan masih bagian dari daratan pulau Sumatera. Merupakan daratan lahan gambut yang terletak di muara sungai Musi dan anak-anak sungainya, diantaranya Sungai Sugihan. Sebagai daratan yang terbentuk di muara sungai, kawasan Air Sugihan merupakan lahan yang subur untuk pertanian. Maka pada tahun 1980-an pemerintah RI membuka kawasan Air Sugihan menjadi kawasan proyek transmigrasi. Masyarakat Palembang dan Air Sugihan akrab menyebut kawasan transmigrasi Air Sugihan dengan sebutan “Jalur”. Sebab, kawasan transmigrasi Air Sugihan dibagi dalam jalur-jalur kanal buatan yang berfungsi sebagai prasarana transportasi dan pengendalian air pasang surut. Jarak Palembang ke Air Sugihan, jalur yang paling dekat, yakni Jalur 20 kira-kira 90 kilo meter. Jika menggunakan speed boad dari Palembang ke Jalur 20 membutuhkan waktu satu setengah jam.

    Di awal-awal pembukaan sebagai proyek transmigrasi, Air Sigihan menjadi lumbung beras yang melimpah. Menurut cerita transmigran generasi pertama, pada awal-awal transmigrasi,panen padi sangat melimpah. Bukan hanya melimpah, tetapi budidaya pertaniannya juga sangat sederhana dan hanya membutuhkan asupan sedikit. Menjelang banjir datang para transmigran cukup melakukan terbas rumput yang menutupi areal sawah. Rumput yang sudah diterbas dibiarkan busuk karena terendam air pasang. Setelah rumput busuk, berubah jadi pupuk, petani menebarkan bibit padi. Setelah itu tinggal menunggu panen. Pupuk kimia tidak dibutuhkan. Tetapi cara bercocok tanam padi seperti ini tidak berlangsung selamanya. Karena perubahan alam yang tidak sepenuhnya bisa dimengerti oleh masyarakat, air pasang tidak pernah lagi mampu menggenangi sawah, masyarakat harus menggunakan herbisida, pestisida/insektisida dan pupuk kimia dengan harga yang sangat mahal. Dengan cara inipun kadang panen gagal. Kesulitan ekonomi semakin terasa. Bahkan masyarakat sudah tidak mampu makan nasi, melainkan oyek. Di beberapa jalur, hal ini berlangsung sampai dengan 2005-an. Jika di awal pembukaan transmigrasi, Air Sugihan – pada saat musim panen – menjadi tujuan perantauan masyarakat Lampung, mulai pada tahun 1990-an Air Sugihan menjadi kantong besar penyedia tenaga perantau ke berbagai daerah, terutama Bangka. Air Sugihan kemudian dikenal dengan kemiskinannya. Penyakit, anak putus sekolah, pengangguran, minimnya prasaranan dan sarana kesehatan dan pendidikan identik dengan Air Sugihan. Tetapi sejak lima tahun terakhir ada cukup banyak perkembangan terjadi di Air Sugihan – dalam berbagai hal. Jika sepeda motor dijadikan indicator kemajuan, kita bisa melihat bahwa rata-rata rumah tangga di Air Sugihan telah memiliki sepeda motor.

    Pelayanan Jemaat GKSBS

    Dalam latar belakang lingkungan dan tantangan seperti diatas GKSBS Air Sugihan hidup dan berkembang. Adalah Pdt. Yosef Syarno yang menjadi pelayan jemaat di GKSBS Air Sugihan di awal-awal perkembangannya. Pdt. Yosef Syarno bersama keluarga tinggal di pastori Jalur 20 Jembatan 4. Setelah Pdt. Yosef Syarno dipanggil melayani di jemaat GKSBS Tanjung Sari, Belitang, pada tahun 1993-an Pdt. Edi Satoto ditugasi melayani di Air Sugihan. Dan pada tahun 1995-an menyusul Pdt. Suwaji membantu Pdt. Edi Satoto. Pdt. Edi Satoto tinggal di Jalur 20 yang sekarang ini masuk dalam wilayah Kabupaten Banyu Asin dan Pdt. Suwaji tinggal di Jalur 27 yang berada dalam wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Jarak tempat tinggal Pdt. Edi Satoto ke tempat tinggal Pdt. Suwaji – jika ditempuh dengan sepeda motor – membutuhkan waktu satu setengah sampai dua jam, dengan kondisi jalan yang luar biasa sulit, terutama pada musim hujan.

    Warga jemaat GKSBS Air Sugihan saat ini tercatat 236 keluarga atau 831 jiwa, tersebar di 13 kelompok kebaktian. Pada tahun 1996-an mengikuti pola perantauan yang ada, GKSBS Air Sugihan memperluas wilayah pelayanan di Bangka. Asal-usul warga jemaat GKSBS Air Sugihan dari berbagai latar belakang denominasi. Ada GITJ, GKJ, GKPS, GKJW. Tetapi, menurut Pdt. Edi Satoto, mayoritas warga jemaat GKSBS Air Sugihan berasal dari GKJW.

    Keterpencilan dan berbagai macam kesulitan yang ada ternyata bisa menjadi berkah tersendiri. Militansi dan kesederhanaan menjadi paduan yang unik yang sangat terasa di lingkungan jemaat GKSBS Air Sugihan. Pdt. Yosef Syarno, Pdt. Edi Satoto dan Pdt. Suwaji di tengah-tengah keterbatasan berhasil mengembangkan militansi warga jemaat. Saat ini di jemaat Air Sugihan memiliki cukup banyak kader-kader yang memiliki semangat pelayanan yang luar biasa, sekalipun dalam kondisi yang sarat dengan keterbatasan dan kesulitan. Dengan melihat kondisi berjemaat saat ini, nampak jelas bahwa para pendeta itu adalah organiser-organiser yang hebat. Dengan kader-kader yang ada, pada pendeta ini membangun dan menggerakkan GKSBS Air Sugihan menjalankan misi Gereja.


    Perjamuan Kudus Anak

    Sesuai dengan keputusan Sidang VIII Sinode GKSBS di Bengkulu, 2005 yang lalu, GKSBS Air Sugihan bertekad untuk melayankan Perjamuan Kudus untuk anak-anak sebagai bagian dari pelayanan Perjamuan Kudus. Sosialisasi dilakukan tahap demi tahap secara terus menerus. Suara pro dan kontra terhadap gagasan Perjamuan Kudus Anak juga terjadi di kalangan jemaat. Tetapi Pdt. Edi Satoto dan Pdt. Suwaji bisa meyakinkan bahwa keputusan Sidang VIII Sinode GKSBS bukan keputusan yang gegabah, melainkan telah melalui kajian-kajian teologis secara mendalam. Yang menarik dari pengalaman Pdt. Edi Satoto dan Pdt. Suwaji – yang membawa keberhasilan dalam pemberlakuan pelayanan Perjamuan Kudus Anak adalah kesadaran para pendeta itu sebagai pemimpin jemaat. Baik Pdt. Edi Satoto maupun Pdt. Suwaji memahami bahwa adalah tugas mereka berdua untuk membawa perubahan di dalam jemaat. Mereka memahami bahwa tugas mereka adalah menuntun umat untuk memasuki perubahan tanpa harus mengalami guncangan yang menghancurkan. Maka mereka merasa harus mampu berdiri teguh, kuat dan tetap bijaksana dalam mengelola dinamika yang ada. Mereka berdua memahami bahwa keputusan Sidang VIII Sinode GKSBS merupakan momentum perubahan. Dan mereka berdua berhasil mengelola momentum itu dengan baik dan bijaksana.

    Memang sampai dengan saat ini masih ada satu-dua warga yang belum bisa menerima sepenuhnya. Tetapi mereka tidak menolak kepersertaan anak-anak dalam Perjamuan Kudus, terutama warga jemaat yang berlatar belakang menonit – yang tidak memiliki tradisi baptis anak. Menurut Pdt. Edi Satoto maupun Pdt. Suwaji, pemberlakuan Perjamuan Kudus Anak memberikan suasana baru dalam kebaktian. Suasana perayaan dan keguyuban sangat terasa sekali. Pendapat ini juga dibenarkan oleh Pnt. Hartono – seorang aktivis gereja yang tinggal di Jalur 27.


    Refleksi

    Perubahan – dimanapun – selalu menakutkan. Pun demikian mengenai perubahan kebiasaan Perjamuan Kudus Anak di GKSBS. Perjalanan Abram dari Haran ‘ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu’ pasti sangat menakutkan. Tapi Abraham yakin bahwa Tuhan menuntun perjalanan itu. Abram mempercayai panggilan itu. Perjalanan dari Mesir ke Kanaan juga perjalanan yang sangat menakutkan. Tapi pemimpin yang kuat, seperti Musa mampu membawa bangsa yang tegar tengkuk itu keluar dari penindasan menuju tanah terjanji. Murid-murid Yesus juga tidak siap menghadi kenyataan bahwa ‘anak manusia harus diserahkan ke tangan orang berdosa’. Kesetiaan Yesus memimpin para murid – setelah menyeberangi dunia gelap kematianNya – para murid berkumpul kembali dan meneruskan perjalanan memberitakan Injil – hidup baru yang didasarkan pada semangat cinta-kasih dan pengampunan. Dan kita semua mengetahui bahwa hidup ini sebuah perjalanan juga, proses dari perubahan ke perubahan. Dan perubahan selalu dibutuhkan. Tetapi dalam setiap perubahan dibutuhkan kepastian bahwa perubahan ini dalam rangka menuju pada pemenuhan hidup. Maka dalam menjalani momentum perubahan dibutuhkan pemimpin yang memiliki kredibilitas. Dan pastilah bahwa kredibilitas yang dibutuhkan bukan hanya sekedar kredibilitas intelektual – yang mampu memberikan penjelasan-penjelasan ilmiah-teologis mengenai obyek perubahan, melainkan seorang pemimpin – yang dari dan dalam hidupnya, umat melihat masa depan yang dijanjikan oleh perubahan itu.

    Dalam dunia seperti sekarang ini dimana kebebasan individual menjadi semakin nyata, ada banyak orang yang mampu menawarkan gagasan-gagasan untuk perubahan. Semua tokoh politik ramai-ramai menawarkan gagasan perubahan. Tetapi gagasan-gagasan yang dirumuskan dengan indah dan ilmiah seringkali tidak mampu menggetarkan dan menggerakkan hati rakyat. Gagasan-gagasan yang sering diusung dan dikemas dengan iklan yang sangat menarik itu tidak jarang hanya ditanggapi dengan sinis oleh rakyat. Bukan karena gagasannya tidak bermutu. Bukan karena gagasannya tidak jelas. Cukup jelas dan cukup bermutu. Tetapi persoalannya rakyat tidak bisa melihat gagasan dan janji itu hidup pada para pemilik gagasan itu. Dan kalau Pdt. Edi Satoto dan Pdt. Suwaji mampu membawa umatnya memasuki perubahan dengan damai, mungkin itu terjadi karena pada diri dan hidup dua pendeta yang dengan penampilan sederhana itu umat melihat maksud dari perubahan yang ditawarkan.



    ***

     
    English (United Kingdom)