There are no translations available.
|
Profil GKSBS
GEREJA KRISTEN SUMATERA BAGIAN SELATAN Gereja yang kini bernama Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS) memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Bermula dengan adanya orang-orang Kristen dari pulau Jawa yang mengikuti program transmigrasi (kolonisasi) mulai pada tahun 1936. Dua tahun kemudian, yaitu tahun 1938 Sinode Gereja Kristen Jawa (GKJ) terpanggil untuk melayani mereka dan mengirimkan para pelayannya ke Sumatera Bagian Selatan. Mengenai hubungan dan kerjasama oikoumenis di Indonesia, pada Sidang Majelis Pekerja Lengkap Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (MPL PGI) di Kendari tanggal 20-27 April 1988, Sinode GKSBS telah diterima menjadi anggota PGI dan tercatat dengan nomor anggota 58. Sampai kini pertumbuhan GKSBS tercatat menjadi 85 Jemaat Dewasa, 0 Calon Jemaat, yang dihimpun dalam 13 Klasis yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera Bagian Selatan dengan 85 tenaga aktif sebagai Pendeta dan Calon Pendeta . VISI SINODE GKSBS Gereja Daerah yang memiliki spiritualitas Hamba Allah yang setia, yang peduli terhadap masalah sosial dan hak asasi manusia, solider dengan mereka yang lemah bersama dengan para pihak mewujudkan masyarakat sipil dan dunia yang berpengharapan. (dokumen renstra GKSBS 2002 – 2010) ISU yang digarap : Pengentasan Kemsiskinan (Eradicating Poverty) Identitas dan Pluralitas (Identity In Plurality) Penguatan Lembaga (Capacity Building) Lembaga Sinode GKSBS dijalankan oleh 13 perwakilan dari Klasis-Klasis serta Pengurus Harian terdiri dari Ketua (Pdt. Dwi Djanarto,S.Th), Sekretaris (Pdt.Bambang Semedi,S.Th) Bendahara(Vierda Budi setiyono). Dan sebagai suporting Program MPS membentuklah Badan Pembantu yaitu LITBANG.
Salib adalah lambang identitas Gereja Yesus Kristus. Daun cengkeh tujuh lembar warna hijau tua dan muda adalah lambang dari berdirinya Sinode GKSBS yang dimulai dengan tujuh klasis pada tahun 1987, yaitu: Klasis Palembang, Belitang, Bandarjaya, Seputih Raman, Metro, Sri Bhawono dan Tanjungkarang. Sedangkan empat garis warna biru di bawah gambar cengkeh adalah melambangkan identitas keberadaan GKSBS di wilayah Sumbagsel yang terdiri dari empat Propinsi yaitu Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi. Itulah sebabnya GKSBS dalam identitas dirinya tidak melandaskan diri sebagai gereja suku, tetapi menjadi gereja daerah di wilayah Sumatera Bagian Selatan yang beragam suku, dan latar belakang budayanya.
(GKSBS)
Pada tahun 1971 Sinode GKJ mulai mempersiapkan kemandirian gereja yang dilayaninya di ‘Tanah Seberang’ yang ketika itu bernama Sinode GKJ Wilayah I di Sumatera Bagian Selatan. Arah kemandirian itu diwujudkan dengan melakukan program-program pembinaan yang intensif, perkunjungan-perkunjungan ke wilayah pelayanan dijadualkan secara teratur sampai dengan tahun 1987. Usaha-usaha itu diberkati Tuhan dan menghasilkan buah. Pada sidang XVIII Sinode GKJ di Yogyakarta tanggal 6 Agustus 1987 persidangan itu memutuskan bahwa Sinode GKJ Wilayah I di Sumatera Bagian Selatan dinyatakan mandiri dan menjadi Sinode sendiri dengan nama: Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (disingkat GKSBS). Pada awal kemandiriannya itu, Sinode GKSBS masih menggunakan Tata Gereja GKJ .
Pada sidang IV Sinode GKSBS tanggal 26-29 Agustus 1996 di Bandar Lampung, GKSBS mengesahkan Tata Gereja/Tata Laksana GKSBS; . Serentak dengan disahkannya Tata Gereja/Tata Laksana GKSBS, maka nama “Gereja-gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan”menjadi “Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan”. Pemerintahan Gereja (secara teologis) adalah Kristokrasi, dan sebagai organisasi yang bersifat/berbentuk gereja pemerintahan gereja GKSBS adalah “Prebisterial Sinodal” yang didalamnya menekankan pentingnya kebersamaan dalam hal dana sesuai amanat musyawarah Majelis Sesinode 1987 dan Sidang I Sinode GKSBS.
Pada Sidang Sinode VIII Sinode GKSBS tanggal 23-26 September 2005 di Bengkulu pada (Artikel 12 : Liturgi Kontektual) yang didalamnya termuat tentang pelayanan perjamuaan kudus untuk anak yang mulai diberlakukan sejak disetujui oleh Sidang Sinode VIII.
Impact : “ Terbangun sejumlah Komunitas alternartif dengan Modal sosial yang kuat untuk mengatasi kemiskinan
Impact : “Terbangun dialog kerjasama Organisasi-organisasi Masayarakat Sipil di Sumatera Bagian Selatan dengan penghargaan yang mendalam atas identitas masing-masing”
Impact :”Ada sejumlah organisasi masyarakat sipil yang memiliki pendekatan yang sistematis untuk merencanakan dan mengembangkan nilai-nilai di Masyarakat untuk menghapus kemiskinan”













About GKSBS


